Zona Sulistyowati

Sesungguhnya jiwa saya merasa senang dengan ilmu, dengannya jiwa saya semakin kuat (Ibnu Taimiyah)

Ada Nama Allah di Tubuh Ibu

Assalamu’alaikum Wr Wb Bismillaahirrahmaanirrahiim, Apa kabar ibu kita hari ini?, sudahkah kita mengunjungi, atau sekedar menelepon mengucapkan salam hari ini, atau mungkin sahabat sudah mempunyai rencana spesial dengan ibu hari ini? Memang seorang ibu sudah sepantasnyalah mendapatkan tempat spesial di dalam hati semua orang. Ada anekdot yang pernah saya dengar dari seorang teman, “Seorang ibu dapat membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang tercurah walaupun hanya seorang diri, sedangkan anaknya bisa berjumlah lebih dari enam. Namun sementara anak yang banyak itu belumlah tentu dapat mengurusi ibunya yang sudah tua walaupun ibunya hanya satu”. Masya Allah. Boleh jadi ucapan itu banyak benarnya, dikarenakan kita seringkali lupa terhadap ibu. Seringkali kita disibukkan oleh urusan-urusan keseharian yang akhirnya kita lupa atau tidak sempat. Artinya jika kita sudah tidak satu rumah dengan ibu, walau berdekatan atau notabene masih satu kotapun belum tentu setiap week end kita dapat mengunjungi ibu kita, apalagi bagi yang ibunya di luar kota atau bahkan di luar negeri. Sementara masih dapat kita ingat, betapa nyamannya pelukan hangat seorang ibu. Yang dengan kasih sayangnya menentramkan kita, yang dengan telatennya mengurusi kita dalam setiap keadaan. Sakit, sedih, gembira, dan tidak peduli betapa nakalnya kita, tetap doa dan kasih sayangnya selalu ada di depan. Karena itu dalam hadis Rasulullah SAW menyatakan ketika ada yang bertanya; “Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? “Ibumu”, jawab Nabi. “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Lalu?”, “Ibumu,” baru kemudian Bapakmu dan keluarga terdekat yang lain,” tegas Nabi. (HR. Bukhari dan Muslim) Bahkan dalam sebuah hadis Qudsi, Abdurrahman bin ‘Auf ra berkata, ia mendengar dari Rasullullah SAW, “Allah pernah mengatakan, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Arrahman (Maha Pengasih), Akulah Yang Menciptakan rahim (ibu), dan Aku ambilkan sebutannya dari NamaKU (Arrahiim = Maha Penyayang), barang siapa yang menyambungkannya, maka Aku akan menyambungkan (diriKU) dengannya. Tapi bagi yang memutuskannya maka Aku pun akan memutuskan (diriKU) dengannya.” (HR. Tirmidzi). Tidak ada bagian tubuh kita yang diambil dari nama suci Allah, kecuali rahim seorang ibu. Tempat dimana Allah telah memilih untuk menaruh buah kasih saying sepasang hamba ciptaanNYA. Di dalam rahim itulah yang biasa juga disebut sebagai alam rahim (alam kasih sayang) proses janin terbentuk, tumbuh dan berkembang dan pada akhirnya ditiupkannya ruh dan setelah lewat dari 3 masa kegelapan akhirnya lahirlah seorang anak manusia ke dunia. Dimensi rahiim atau kasih saying sangatlah luas. Betapa kasih saying ibupun kita tidak dapat membalasnya. Sebagaimana hadits yang menceritakan tentang seorang ibu yang digendong ketika berthawaf, lelaki itu menggendong kemanapun si ibu mau. Kemudian lelaki yang menggendongnya bertanya kepada sahabat Umar, lalu apa jawab Abdullah bin Umar ra, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu." Seandainya kita mempunyai dua buah gunung emas dan kita berikan semua kepada ibu kita pun belumlah cukup dibandingkan dengan kasih sayang serta kebaikan yang telah ibu berikan kepada kita. Karena itu perlulah kita tafakuri sudahkah kita terus menyambung tali silaturahiim, dalam artian menebarkan kasih saying kepada ibu kita, ibu, ibu kemudian bapak kita, lalu kepada keluarga dan sesama? Berhati-hatilah karena Rasullullah SAW, mengingatkan dalam haditsnya; “Dua dosa besar yang Allah segerakan azabnya di dunia, yaitu berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Hakim). Oleh karena itu, mari segerakan kita bersimpuh memohon maaf, menebarkan doa dan kasih saying kepada mereka, “Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku dan kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Aamiin. Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya. Wassalamu’alaikum Wr Wb Sumber : http://www.republika.co.id Baca selengkapnya Zona Sulistyowati

Makkah Sebagai Pusat Bumi

Makkah—juga disebut Bakkah—tempat di mana umat Islam melaksanakan haji itu terbukti sebagai tempat yang pertama diciptakan. Telah menjadi kenyataan ilmiah bahwa bola bumi ini pada mulanya tenggelam di dalam air (samudera yang sangat luas).
Kemudian gunung api di dasar samudera ini meletus dengan keras dan mengirimkan lava dan magma dalam jumlah besar yang membentuk ‘bukit’. Dan bukit ini adalah tempat Allah memerintahkan untuk menjadikannya lantai dari Ka’bah (kiblat). Batu basal Makkah dibuktikan oleh suatu studi ilmiah sebagai batu paling purba di bumi.
Jika demikian, ini berarti bahwa Allah terus-menerus memperluas dataran dari tempat ini. Jadi, ini adalah tempat yang paling tua di dunia.
Adakah hadits yang nabawi yang menunjukkan fakta yang mengejutkan ini? Jawaban adalah ya.
Nabi bersabda, ‘Ka’bah itu adalah sesistim tanah di atas air, dari tempat itu bumi ini diperluas.’ Dan ini didukung oleh fakta tersebut.

Menjadi tempat yang pertama diciptakan itu menambah sisi spiritual tempat tersebut. Juga, yang mengatakan nabi yang tempat di dalam dahulu kala dari waktu menyelam di dalam air dan siapa yang mengatakan kepada dia bahwa Ka’bah adalah pemenang pertama yang untuk dibangun atas potongan dari ini tempat seperti yang didukung oleh studi dari basalt mengayun-ayun di Makkah?
Makkah Pusat Bumi
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.
Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.
Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.
Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).
Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.
Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.
Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.
Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur�an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)
Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam.
Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.
Makkah atau Greenwich
Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.
Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.
Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit
Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)
Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.
Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.
Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi)
Nabi bersabda, ‘Wahai orang-orang Makkah, wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian berada di bawah pertengahan langit.’
Thawaf di Sekitar Makkah
Dalam Islam, ketika seseorang thawaf di sekitar Ka’bah, maka ia memulai dari Hajar Aswad, dan gerakannya harus berlawanan dengan arah jarum jam. Hal itu adalah penting mengingat segala sesuatu di alam semesta dari atom hingga galaksi itu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam.
Elektron-elektron di dalam atom mengelilingi nukleus secara berlawanan dengan jarum jam. Di dalam tubuh, sitoplasma mengelilingi nukleus suatu sel berlawanan dengan arah jarum jam. Molekul-molekul protein-protein terbentuk dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam. Darah memulai gerakannya dari kiri ke kanan berlawanan dengan arah jarum jam.
Di dalam kandungan para ibu, telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Sperma ketika mencapai indung telur mengelilingi diri sendiri berlawanan dengan arah jarum jam. Peredaran darah manusia mulai gerakan berlawanan dengan arah jarum jamnya. Perputaran bumi pada porosnya dan di sekeliling matahari secara berlawanan dengan arah jarum jam.
Perputaran matahari pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam. Matahari dengan semua sistimnya mengelilingi suatu titik tertentu di dalam galaksi berlawanan dengan arah jarum jam. Galaksi juga berputar pada porosnya berlawanan dengan arah jarum jam.
Sumber : http://auliyaa-husna.abatasa.com


Baca selengkapnya Zona Sulistyowati

Tafsir Surah Al Fatihah tentang Keistiqamahan


Ust DR. Amir Faishal Fath, MA
Ibnul Qayyim pernah membuat kitab yang tebalnya 4 jilid dari inspirasi ayat: "iyya ka na'budu wa iyya ka nasta'in". Itulah kitab Madarijus Salikin.
Muqaddimahnya sangat menarik; seandainya Al Qur'an diringkas dalam satu surat, maka dialah Al Fatihah.
Apabila menjadi satu ayat, maka itulah 'bismillahirrahmanirrahim'. Apabila diringkas menjadi satu kata tunggal, maka itulah kata 'Allah'.
Inilah cara, bagaimana seorang hamba mengenal Allah dengan sesungguhnya. Semua ayat Qur'an ditujukan agar kita menjadi hamba sesungguhnya.
Hamba yang sesungguhnya adalah yang berda'wah fisabilillah. Sebagaimana gigihnya dakwah hamba syaithan.

Dikisahkan kegigihan dakwah syaithan yang mendendangkan nyanyian tiap malam di ubun-ubun seseorang dengan 3 buhul: "malam masih panjang, tidurlah tidur tidur".
Saat manusia bangun, lepas satu buhul dan syaithan kelabakan pindah ke buhul kedua dan kembali berdendang di pos buhul kedua.

Seandainya seseorang wudhu, maka syaithan kelabakan untuk pindah ke pos buhul terakhir. Dan seandainya ia shalat, lepaslah semua buhul.
Gambaran Rasul padanya adalah "fa ash baha thayyiban nafs - inilah yang jiwanya suci"
Maka kisah mengenai Surga, Allah ceritakan subyeknya tentang orang-orang bertaqwa. Karena hanya mereka saja yang siap menjalankan Al Qur'an dengan sepenuh hati.
Maka janganlah berhenti dalam level iman, tapi naiklah pada level taqwa. Merekalah yang memperoleh kemenangan yang besar.
Alkisah Kaisar Romawi kebingungan. Bagaimana bisa? pasukan mereka yang 12.000 vs 3.500 dari muslim, atau kemudian 250.000 vs 15.000 dalam perang Tabuk selalu kalah.
Kemudian di segala pos ummat islam disebar mata-mata. Laporan mereka sama: "Wahai kaisar, mereka adalah pribadi yang shalat pada malam hari, tidak suka mengambil hak orang lain, tidak berzina, tidak mendzalimi diri sendiri. sedang kami tidak demikian".
Kata sang kaisar: "Kalau begitu, selama kaum muslim demikian, istiqomah, selamanya kita takkan berhasil menaklukkan mereka".
"Wahai kenapa ya kaisar?". "Karena Tuhan mereka turut campur dalam urusan mereka". Maka dimulailah pendangkalan akhlaq & ibadah ummat islam hingga saat ini.
Kita hanya bisa menangis atas keterhijaban doa orang-orang shalih menuju langit karena ma'siat ummat muslim yang lain.
Kata Rasul ketika bercerita "Seharusnya, doa musafir yang berpakaian sederhana, tengadahnya, panggilannya pada Allah.
Semua faktor itu tak ada alasan Allah tak mengabulkannya" Semua hanya karena mereka makan yang haram, yang mereka pakai haram.

Maka inilah yang menghijabi doa kita. Kita ingat salah satu macam keharaman, yaitu secara dzat yang akan mengganggu metabolisme tubuh.
Sufyan Ats Tsauri sangat menyesal atas harta haram yang pernah ia makan. Atau Abu Bakar yang memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut hingga muntah setelah tahu makanan yang dimakannya adalah harta seseorang yang dulunya berprofesi sebagai dukun. Hati-hatilah pada harta haram saudaraku.
Ibarat mobil yang dipaksa berjalan dengan bahan bakar solar, maka mobil akan rusak. Atau ibarat HP, tak ada yang mampu kita harapkan jika sinyalnya diputus.
Bagaimana bisa kita bisa istiqamah? Jawabannya adalah jadilah generasi yang tak rela makan harta haram.
Ada 7 ikrar yang harus kita tanam dalam jiwa untuk membangun titik istiqamah. Itulah surah Al Fatihah. di tiap ayatnya, ada ikrar penting:
1. Ikrar bahwa semua aktivitas kita, kita awali atas nama Allah. Sebagaimana dalam hadits: "Semua yg tak dimulai dengan bismillah, terputus dari Allah SWT". "jangan cela syaithan, cukuplah baca basmallah, maka syaithan akan menjadi kecil dan lari"
2. Ikrar untuk mensyukuri setiap ni'mat Allah buat kita. Dan definisi syukur yang benar adalah menggunakan ni'mat sesuai dengan keinginan yang memberikan
3. Dengan Ikrar Maha Pengasih Penyayang Allah, maka segala yang datang dari Allah adalah yang terbaik. Maka menjadilah kita pribadi yang teguh untuk tetap possitive thinking / khusnudzan pada Allah "Boleh jadi apa yang kau suka, itu sebenarnya tak baik buatmu.."
4. Ikrar menjadikan Akhirat sebagai tujuan, dunia telah aku talak tiga. Segala dunia aku tujukan untuk menuju akhirat. 'Umar ketika memimpin seperempat dunia, tiap harinya beliau tetap makan roti keras. Ketika anak-anaknya iba dan bermaksud mengganti dengan makanan yang lebih baik, 'Umar malah kemudian bercerita "Kalaupun aku mau, aku perintahkan pelayanku meracik masakan dari kambing muda. Aku hanya sengaja agar nafsuku tak dibiarkan terlena dengan dunia" Kejarlah akhirat, tapi jangan lupa dunia. Dunia hanyalah keperluan, ibarat WC, ia bukan tujuan kita masuk ke rumah.
5. Ikrar bahwa setting hidup kita hanya untuk beribadah pada Allah. Maka tak ada waktu buat kita ma'siat. Sampai kapanpun kita akan istiqamah.
6. Ikrar komitmen di jalan yang lurus. Apapun yang terjadi, inilah jalanku, identitasku, maka tunjukilah aku selalu ke jalan yang lurus. Lebah, selalu hinggap di tempat-tempat yang baik dan selalu mengeluarkan yang baik-baik. Bukan seperti lalat yang di tempat baik hinggap, pun di tempat-tempat buruk.
7. Ikrar belajar dari sejarah, maka darinya kuambil yang baik-baik dan kutinggal yang buruk-buruk.
Oleh: Luqman Zaini di Mabit "Istiqamah di Jalan Da'wah" milad 10 tahun Daarut Tarbiyah,
Masjid At Tin TMII, 21 April 2010..
Baca selengkapnya Zona Sulistyowati

Hakikat Sukses bagi Muslim Sejati



Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu Iihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan­Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
(Q.S. AI-Fath [48]: 29)

Tiada Tuhan selain Allah, yang Maha­sempuma segala-galanya. Betapa segala perbuatan-Nya senantiasa indah
mengesankan. Shalawat dan salam bagi kekasih Allah, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang keberadaannya menjadi contoh teladan
utama tentang bagaimana menjadi pribadi muslim sejati yang senantiasa berada dalam cahaya ridha-Nya.

Sungguh alangkah bahagianya bagi siapa saja yang menyadari betapa indah dan lezatnya manakala mengetahui i1mu tentang bagaimana menjadi seorang hamba Allah yang tertuntun dalam cahaya Islam yang hakiki. Dia tidak akan merelakan sesaat pun, kecuali menjadi jalan untuk mendapatkan curahan kasih sayang dan keridhaan-Nya. Karenanya, dia pun akan sangat mewaspadai segala sikapnya.

Pandangannya disiapkan untuk menjadi mata yang dapat memandang Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak. Untuk itu, dia akan senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk menahan dan memelihara pandangannya dari segala hal yang tidak diridhai-Nya. Dipaling­kannya sedemikian rupa sepasang matanya itu dari segala hal yang diharamkan dan berpotensi mengundang Murka-Nya.

Dijadikannya kegemaran dan kenikmatan membaca “surat” dari Sang Maha Pancipta, AI­-Quranul Karim, sebagai bagian yang sangat dipentingkan dan sangat di-istiqamahn dan rangkaian aktivitas hidup kesehariannya. Digunakannya pula kedua mata itu senantiasa untuk. memandang kesempumaan dan keindahan karya cipta Dzat Maha Sempuma dan Maha Pencipta. Pendek kata, tatapannya senantiasa diupayakan sekuat-kuatnya agar bersih dan terbebas dari segala bentuk kemaksiatan dan kesia-siaan.

Pendengarannya dia jaga dan persiapkan menjadi telinga yang dapat mendengarkan merdunya suara Nabi Daud ‘alaihis salam dan percakapan ahli surga. Ditutupnya rapat-rapat kedua telinganya dari kalimat-kahmat yang hina serta suara-suara yang kotor dan sia-sia, yang dapat mengakibatkan hati menjadi kesat dan membatu. Sebaliknya, dia buka lebar-lebar terhadap kalimat-kalimat dan suara-suara yang dapat membuatnya semakin mengenal dan mengerti Rabb-nya.

Pikirannya dikuasai dengan baik dan benar,
sehingga tidak membiarkannya terjebak memperumit dan mempersulit masalah urussan duniawi, yang notabene pasti sia-sia dan tiada arti. Dia arahkan kekuatan berpikirnya untuk menerjemahkan segala urusan dan kejadian di sekitarnya, sehingga menjadi sarana untuk lebih mengenal dan mengagumi kehebatan Dzat Maha Penguasa dan Maha Penentu segala­galanya. Tidak sempit dan picik, namun luas, lebar, dan sangat dalam,

Walhasil, buah pikiran yang dihasilkannya pun selalu berujung pada keagungan dan kebesaran Allah Azza wa Jalla.
Lisannya am at jauh dari selera rendah.
Perhitungannya senantiasa matang. Dia senantiasa berpikir terlebih dahulu sebelum berucap, sehingga kata-katanya benar-benar bermutu, indah menyejukkan, dan merasuk lembut menyentuh kalbu. Terkadang bergelora, membakar semangat untuk taat, penuh hikmah dan manfaat, membuat siapapun merasa beruntung mendengarkannya. Sungguh jauh dari kalimat-kalimat keji, kotor, hina, dan sia-sia. Bahkan diamnya sekalipun niscaya akan semakin mengingatkan dan merindukan siapa­pun untuk taat kepada Allah. Sementara lidahnya selalu basah menyebut asma-Nya.

Buruk sangka, iri, dengki, ujub, riya, takabur, dan berbagai perilaku hati yang hina lainnya sekuat-kuatnya dia cegah. Tidak pernah rela ada noda penyakit hati bersemayam di kalbunya.
Kalaupun sempat terlintas, maka segera dihapus, dibasmi, dan selekasnya bertaubat.
Tak pernah jemu dia memohon pertolongan Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang agar hatinya tetap jernih kilau-kemilau dan bersih cemerlang. Hal ini dilakukannya karena dia yakin benar bahwa tidak akan pernah ada ketenangan dan kemuliaan, kecuali dengan hati yang bersih dan jernih. Tidak akan pernah seseorang merasakan kenikmatan dan kelezatan taat, kecuali dengan hati yang bersih dan jernih. Tidak akan pernah pula seseorang mengenal, mencintai dan merindukan pertemuan dengan Allah kecuali dengan hati yang bersih dan jernih. Untuk itu, hatinya pun senantiasa dia hiasi dengan husnuzhan kepada hamba-hamba Allah setelah memelihara sikap husnuzhan-nya terhadap Allah.

Segal a perbuatannya pun selalu berhiaskan ikhlas, tawadhu, dan bersih … bersih
Adapun wajahnya, subhanallah, senantia~a saja wajah itu tampak cerah ceria; selalu saja dihiasi dengan sunggingan senyum yang .tulus. Gerak-geriknya selalu terjaga dan terpehhara. Penampilannya sederhana, namun menyenang­kan. Selalu cepat hadir kebaikannya di mana pun dia berada. Siapapun merasa aman dan tenteram dengan kehadirannya. Sungguh, senantiasa mengesankan perilaku dan tindak-tanduknya.

Betapa penuh pula perhatian dan bakti kepada ayah bundanya, keluarganya, dan saudara-saudaranya. Dia pun amat gemar menjalin persahabatan, mempererat silaturahmi dan penuh keakraban dengan tetangga~ tetangganya.
Setiap terngiang di telinganya panggilan adzan, tak pernah dia menunda-nunda langkahnya menuju rumah Allah. Dia berwudhu dan wudhunya senantiasa tertib dan sempuma. Indah, khusyuk, dan nikmat senantiasa ibadahnya. Hari-harinya sarat dengan sujud dalam ibadah dan syukur atas karunia nikmat­Nya.
Ah, sekiranya saja Allah Azza wa Jalla berkenan memilih kita menjadi orang yang memilki sikap dan akhlak seperti ini, niscaya tidak akan diragukan lagi jaminan kemuliaan dan kebahagiaan dalam sisa umur kita di dunia ini lebih-Iebih di akhirat kelak. Sungguh, sama sekali tidak sulit bagi Allah memilih kita menjadi orang yang mulia.

Oleh karena itu, berjuanglah sekuat-kuatnya sehingga Allah memandang layak untuk menempatkan kita dalam singgasana kemuliaan. Jadilah hamba Allah yang terbaik dan mengesankan bagi-Nya.

Ya, Rabb. Sesungguhnya hari-hari satu demi satu menghilang. Malam-malamnya pun tak terasa berlalu dan berganti siang. Adapun kami sudah menjadi hamba yang hanya Engkau yang lebih mengetahui hakikat keberadaannya daripada kami,

Ya, Allah. Kalau sampai berakhir hari-hari dan malam-malam yang telah kami rajut dengan benang-benang ibadah ini, sementara pada diri kami masih ada dosa dan kesalahan, maka ampunilah dan ridhailah kami. Sekiranya ternyata Engkau sudah ridha, tambahkanlah keridhaan­Mu itu agar kami menjadi hamba yang senantiasa dapat merasakan keindahan dan kelezatan iman. Amin, ya Rabbal ‘alamiin.

sumber : Muslim Preastatif
KH. Abdullah Gymnastiar

Baca selengkapnya Zona Sulistyowati

Silaturrahim Yuuk

Pesan Sahabat


ShoutMix chat widget

About Me

Moga tiap langkahku membawa berkah. Ibarat Tanaman, dimanapun saya ditanam, bertumbuh dan berkembanglah.

Google Map

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Followers

Visitor

design by sls_nomy04. Diberdayakan oleh Blogger.